Pramusim seharusnya menjadi ajang untuk mencari jawaban. Namun bagi Manchester United, pertandingan melawan Wrexham justru memperjelas satu kenyataan yang sudah lama terlihat: Setan Merah masih kekurangan striker murni.
Joshua Zirkzee dipercaya menjadi starter di lini depan karena Benjamin Sesko masih menjalani pemulihan cedera tulang kering. Sayangnya, kesempatan itu belum mampu membungkam kritik. Penyerang asal Belanda tersebut kembali menunjukkan bahwa peran terbaiknya bukan sebagai mesin gol yang menunggu bola di kotak penalti.
Sejak pertama kali datang ke Old Trafford, Zirkzee memang tidak pernah mengklaim dirinya sebagai striker tradisional. Ia bahkan pernah menyebut dirinya lebih nyaman bermain sebagai "nomor 9,5", pemain yang turun menjemput bola, membangun serangan, dan menghubungkan lini tengah dengan lini depan.
Karakter itulah yang kembali terlihat saat menghadapi Wrexham. Zirkzee lebih sering bergerak keluar dari kotak penalti untuk membuka ruang dan mengalirkan bola kepada rekan-rekannya. Permainan tim memang menjadi lebih hidup, tetapi siapa yang akan menyelesaikan peluang di depan gawang?
Di sinilah masalah utama Manchester United berada.
Saat ini, Benjamin Sesko menjadi satu-satunya penyerang tengah murni yang benar-benar bisa diandalkan. Namun striker asal Slovenia itu baru saja menjalani proses pemulihan setelah cedera tulang kering yang didapat musim lalu saat menghadapi Liverpool.
MU memang optimistis Sesko akan fit untuk mengawali musim 2026/2027. Tetapi mengandalkan satu striker sepanjang musim adalah perjudian yang sangat berisiko. Premier League, Liga Champions, hingga kompetisi domestik akan menuntut rotasi yang berkualitas.
Jika Sesko kembali mengalami cedera, pilihan Michael Carrick di lini depan menjadi sangat terbatas.
Musim lalu, Ruben Amorim sempat mencoba menggeser Zirkzee ke posisi gelandang serang dan hasilnya justru cukup menjanjikan. Perannya sebagai penghubung antarlini terlihat jauh lebih natural dibanding ketika dipaksa menjadi target man.
Masalahnya, persaingan di sektor tersebut kini jauh lebih ketat. Artinya, Zirkzee tetap berada dalam situasi yang menggantung. Ia bukan pilihan utama sebagai striker, tetapi juga belum tentu mendapat tempat reguler di posisi lain.
Situasi itu semakin rumit mengingat Zirkzee sempat ingin meninggalkan Manchester United pada bursa transfer Januari lalu. Kurangnya menit bermain membuatnya hanya lima kali menjadi starter di Premier League musim lalu, bahkan gagal masuk skuad Belanda untuk Piala Dunia 2026.
Meski begitu, hubungan Zirkzee dengan rekan setim maupun para pendukung tetap berjalan baik. Tidak ada masalah soal profesionalisme atau sikapnya di ruang ganti.
Namun sepak bola modern bukan soal disukai atau tidak. Ini soal kebutuhan tim.
Menjual Zirkzee bukan berarti mengakui bahwa transfernya gagal. Justru bisa menjadi langkah cerdas apabila dana hasil penjualannya digunakan untuk mendatangkan striker berpengalaman yang mampu bersaing sekaligus menjadi pelapis Benjamin Sesko.
Manchester United sudah terlalu lama bermasalah di lini depan. Mereka tidak bisa lagi berharap pemain yang bukan striker murni tiba-tiba berubah menjadi mesin gol.
Musim baru tinggal menghitung hari. Jika Setan Merah benar-benar ingin kembali bersaing memperebutkan gelar Premier League dan melangkah jauh di Liga Champions, mencari striker baru bukan lagi sebuah opsi.
Itu adalah kebutuhan yang tidak boleh ditunda lagi.
Komentar