BUMN sebesar Pertamina dan PLN punya sumber daya luar biasa. Tapi kalau sebuah keputusan harus melewati terlalu banyak meja sebelum bisa dijalankan, seberapa cepat perusahaan negara bisa bergerak?

Persoalan itulah yang menjadi salah satu perhatian Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuannya dengan Direktur Utama Pertamina. Prabowo meminta struktur organisasi di sejumlah BUMN strategis dibuat lebih ramping agar perusahaan tidak terjebak dalam rantai birokrasi yang terlalu panjang.

Dan pembahasannya ternyata tidak berhenti di sana. Sawit, jagung, sampai tebu ikut masuk meja pembicaraan.

Pertamina dan PLN Diminta Lebih “Ramping”

Prabowo menyoroti struktur perusahaan yang dinilai terlalu panjang, termasuk di Pertamina dan PLN.

Arahnya sederhana: pangkas struktur yang tidak diperlukan agar keputusan bisa dibuat lebih cepat.

Dengan rantai komando yang lebih pendek, pemerintah berharap koordinasi menjadi lebih efektif, birokrasi berkurang, dan perusahaan bisa lebih gesit menghadapi persoalan di lapangan.

Ini menjadi penting karena Pertamina dan PLN bukan perusahaan biasa. Keduanya bersentuhan langsung dengan kebutuhan energi ratusan juta masyarakat Indonesia.

Satu keputusan yang terlambat di level atas bisa berdampak panjang sampai ke bawah.

Bensin Campur Sawit 50 Persen Ikut Dibahas

Bagian lain yang cukup mencuri perhatian adalah pembahasan mengenai pengembangan bahan bakar berbasis sumber daya dalam negeri.

Dirut Pertamina melaporkan perkembangan program bahan bakar dengan campuran berbasis sawit hingga 50 persen.

Indonesia sebelumnya telah menjalankan mandatori biodiesel B40 sejak 2025, yakni campuran 40 persen biodiesel berbasis sawit dengan 60 persen solar. Pemerintah juga telah mengarahkan pengembangan menuju B50 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Kalau target tersebut terus berjalan, sawit Indonesia bukan lagi cuma soal minyak goreng dan ekspor. Komoditas ini semakin ditempatkan sebagai salah satu bagian penting strategi ketahanan energi nasional.

Jagung dan Tebu Juga Disiapkan Jadi Bahan Bakar

Tak hanya sawit, pembicaraan turut menyentuh bioetanol.

Bioetanol dapat dihasilkan melalui fermentasi bahan baku yang mengandung gula atau pati, termasuk tebu dan jagung. Pemerintah sendiri tengah mendorong pengembangan bioetanol sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

Artinya, arah yang sedang dibangun cukup jelas.

Sawit masuk tangki diesel, sementara tebu dan jagung berpotensi semakin besar perannya dalam bensin.

Bagi Indonesia yang memiliki produksi komoditas pertanian besar, strategi tersebut menawarkan satu keuntungan menarik: sebagian kebutuhan energi bisa dipenuhi menggunakan bahan baku yang diproduksi di dalam negeri.

Bukan Cuma Urusan Pertamina

Pertemuan ini juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Pertahanan, Kepala BIN, Menteri Sekretaris Negara, dan Sekretaris Kabinet.

Kehadiran mereka menunjukkan pembicaraan mengenai energi tidak hanya dipandang sebagai persoalan bisnis Pertamina.

Energi berkaitan langsung dengan ketahanan nasional, APBN, industri, pangan, transportasi hingga ketergantungan Indonesia terhadap impor.

Karena itu, keinginan Prabowo membuat BUMN energi bergerak lebih cepat berjalan beriringan dengan dorongan mencari sumber energi yang semakin banyak berasal dari dalam negeri.

Ambisi Besar, Tapi Eksekusinya yang Akan Diuji

Di atas kertas, idenya terdengar menarik: BUMN lebih ramping, keputusan lebih cepat, impor energi berkurang, dan komoditas Indonesia punya nilai tambah lebih besar.

Tantangannya ada pada pelaksanaan.

Pemangkasan struktur harus benar-benar meningkatkan efisiensi, bukan sekadar mengganti bagan organisasi. Begitu pula dengan B50 dan bioetanol yang membutuhkan kesiapan produksi, distribusi, harga, kualitas bahan bakar hingga pasokan bahan baku yang berkelanjutan.

Kalau semua itu berhasil dilakukan, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar perubahan di tubuh Pertamina.

Menurut kamu, mana yang harus menjadi prioritas pemerintah: memangkas birokrasi BUMN dulu atau mempercepat B50 dan bioetanol agar Indonesia semakin sedikit bergantung pada BBM impor?