Kalau biasanya pejabat dijadikan contoh karena prestasi atau perjalanan kariernya, Bahlil Lahadalia kali ini mendapat perlakuan sedikit berbeda dari Presiden Prabowo Subianto.

Saat berbicara mengenai pendidikan, Prabowo menyampaikan pandangannya bahwa kecerdasan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh sekolah atau kampus tempat ia belajar.

Lalu, tanpa aba-aba, nama Menteri ESDM itu muncul.

“Buktinya Pak Bahlil”

Prabowo awalnya menekankan bahwa kualitas seseorang tidak selalu bisa diukur dari almamater.

“Menurut saya, kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Buktinya Pak Bahlil,” kata Prabowo.

Ucapan tersebut disambut reaksi dari para hadirin.

Tapi ternyata belum selesai.

Prabowo kemudian melanjutkan candaan dengan menyinggung kampus Bahlil yang menurutnya tidak terlalu terkenal, bahkan menyebut kampus tersebut sudah tidak ditemukan ketika dicari melalui Google.

“Sekolahnya enggak terlalu terkenal, kampusnya kalau dicari di Google sudah enggak ada.”

Bahlil niatnya datang sebagai menteri, malah jadi studi kasus. 😭

Di Balik Candaan, Ada Pesan yang Serius

Terlepas dari gaya penyampaiannya yang mengundang tawa, poin Prabowo sebenarnya cukup jelas.

Menurutnya, nama besar sekolah atau universitas bukan jaminan mutlak seseorang akan menjadi pintar ataupun sukses.

Bahlil sendiri kini memegang posisi strategis sebagai Menteri ESDM. Ia juga merupakan Ketua Umum Partai Golkar dan sebelumnya pernah menjabat Menteri Investasi/Kepala BKPM.

Dengan kata lain, Prabowo menggunakan perjalanan karier Bahlil sebagai contoh bahwa seseorang tetap bisa mencapai posisi tinggi tanpa harus berasal dari institusi pendidikan yang paling terkenal.

Tapi Pernyataan Ini Bisa Jadi Perdebatan

Kalimat “kecerdasan bukan berasal dari sekolah” tentu menarik untuk diperdebatkan.

Benar bahwa sekolah bukan satu-satunya tempat seseorang memperoleh kecerdasan. Pengalaman, lingkungan, kemampuan beradaptasi, rasa ingin tahu hingga keterampilan sosial juga berperan besar dalam perkembangan seseorang.

Namun bukan berarti pendidikan formal menjadi tidak penting.

Sekolah tetap memberikan akses terhadap ilmu pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, jaringan sosial dan berbagai kesempatan yang mungkin sulit diperoleh sebagian orang di luar sistem pendidikan.

Jadi mungkin persoalannya bukan “sekolah penting atau tidak?”, melainkan apakah kita terlalu sering mengukur kemampuan seseorang hanya dari nama kampus yang tercetak di ijazahnya.

Bahlil Lagi, Bahlil Lagi 😂

Yang membuat momen tersebut semakin menarik adalah hubungan Prabowo dan Bahlil yang memang beberapa kali terlihat cair dalam berbagai acara pemerintahan.

Bahkan ketika membahas sesuatu yang serius seperti pendidikan, Bahlil masih bisa tiba-tiba menjadi bahan candaan Presiden.

Pesannya sampai, hadirin tertawa, dan Bahlil sekali lagi mendapat kehormatan menjadi “bukti hidup” dalam pidato Prabowo.

Kalau menurut kamu, Prabowo ada benarnya nggak? Seberapa penting almamater dalam menentukan kesuksesan seseorang: penting banget, cuma pembuka jalan, atau sebenarnya nggak terlalu ngaruh?