Di internet, mengetik satu komentar mungkin hanya membutuhkan lima detik. Setelah itu kita bisa scroll, menutup aplikasi, lalu melupakannya. Tapi bagi orang yang menerima ratusan bahkan ribuan komentar sekaligus, dampaknya tidak ikut hilang ketika layar dimatikan.

Tragedi yang dikaitkan dengan kreator TikTok asal Jepang bernama Mina, dikenal melalui akun @sweeter_nk, kini mengguncang komunitas K-Pop. Perempuan berusia 26 tahun yang dikenal sebagai penggemar ENHYPEN tersebut dilaporkan m3ninggal dunia di Seoul setelah sebelumnya menjadi pusat kontroversi dan menerima gelombang serangan daring.

Berawal dari Interaksi dengan ENHYPEN

Mina dikenal cukup aktif di komunitas penggemar ENHYPEN, khususnya sebagai penggemar Ni-ki. Ia bahkan pernah mengelola akun fanbase yang didedikasikan untuk idol asal Jepang tersebut.

Kontroversi kemudian muncul setelah aktivitas ENHYPEN di Amerika Serikat pada akhir Juli 2026.

Sejumlah interaksi Mina dengan para member mulai menjadi bahan pembicaraan di kalangan penggemar. Kritik terhadap dirinya semakin besar setelah Ni-ki membahas mengenai perilaku penggemar dalam sebuah siaran langsung.

Ni-ki tidak menyebut Mina secara langsung, tetapi sebagian warganet kemudian menghubungkan perkataannya dengan kontroversi yang sedang terjadi.

Dari sinilah situasinya semakin panas.

Sudah Meminta Maaf, Serangan Disebut Tetap Berlanjut

Di tengah kritik yang semakin besar, Mina kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Namun kontroversi tersebut tidak langsung berhenti.

Berbagai komentar negatif terhadap dirinya terus bermunculan. Diskusi mengenai perilakunya perlahan bercampur dengan penghinaan dan serangan personal dari sebagian pengguna media sosial.

Penting untuk membedakan keduanya.

Mengkritik tindakan seseorang bukanlah hal yang sama dengan menyerang orang tersebut secara massal.

Ditemukan M3ninggal di Seoul

Pada 5 Agustus, seorang teman dilaporkan menghubungi pihak kepolisian setelah Mina melakukan siaran langsung dari tempat tinggalnya di Seoul.

Petugas kemudian mendatangi lokasi dan menemukan Mina telah m3ninggal dunia.

Kepolisian Yongsan dilaporkan masih menyelidiki keadaan di balik kepergiannya. Karena itu, hubungan sebab-akibat antara cyberbullying yang dialaminya dengan kem4tiannya tidak seharusnya disimpulkan sebelum hasil penyelidikan resmi tersedia.

Ini menjadi detail penting di tengah banyaknya spekulasi yang beredar di media sosial.

Ketika Fandom Berubah Menjadi Pengadilan Online

Kepergian Mina kemudian memicu pembicaraan yang jauh lebih luas mengenai budaya fandom K-Pop.

Fandom memang bisa menjadi komunitas luar biasa. Orang dari berbagai negara bisa berteman hanya karena menyukai grup atau idol yang sama.

Namun sisi lainnya juga tidak bisa diabaikan.

Ketika seseorang dianggap melakukan kesalahan terhadap idol, ribuan pengguna internet dapat menyerangnya dalam waktu bersamaan. Kritik berubah menjadi hinaan. Hinaan berubah menjadi perburuan akun. Bahkan permintaan maaf terkadang dianggap belum cukup.

Dan karena semuanya terjadi melalui layar, mudah sekali melupakan bahwa ada manusia sungguhan yang membaca setiap komentar tersebut.

Kita Tidak Harus Menyukai Seseorang untuk Tetap Memperlakukan Mereka sebagai Manusia

Kasus Mina tidak berarti setiap kritik terhadap perilakunya otomatis salah. Penggemar tetap berhak menetapkan batasan dan mengkritik tindakan yang dianggap tidak pantas.

Namun ada garis yang seharusnya tidak dilewati.

Tidak menyukai perilaku seseorang bukan tiket untuk menghina, mempermalukan, atau mengajak ribuan orang menyerangnya.

Internet mungkin membuat kita merasa jauh dari orang yang berada di balik sebuah username.

Tapi bagi penerimanya, komentar itu tetap nyata.

Menurut kamu, di mana batas antara kritik yang wajar dan cyberbullying? Dan apakah budaya “serang rame-rame” di fandom sudah terlalu dinormalisasi?