Dalam hitungan detik, pagi yang normal berubah menjadi bencana.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin, 10 Agustus 2026. Guncangan kuat merusak bangunan di berbagai kota, membuat warga berhamburan keluar, dan meninggalkan tim penyelamat dengan perlombaan melawan waktu.

Data korban juga berubah sangat cepat. Laporan awal memang menyebut lebih dari 70 orang meninggal, tetapi pembaruan terbaru telah menunjukkan lebih dari 100 korban jiwa.

Pusat Gempa Berada di Chocó

USGS mencatat gempa berkekuatan M7,4 tersebut berpusat sekitar 5 kilometer di sebelah timur San José del Palmar, Chocó.

Guncangannya dirasakan luas dan menimbulkan kerusakan serius di beberapa kota Kolombia barat.

Pereira, Cali, Manizales, Quibdó hingga Armenia termasuk wilayah yang dilaporkan terdampak. Bangunan mengalami kerusakan berat dan beberapa di antaranya runtuh.

Korban Terus Bertambah

Besarnya skala bencana membuat angka korban terus diperbarui.

Laporan awal menyebut sedikitnya 70 orang meninggal. Namun seiring tim penyelamat menjangkau lebih banyak wilayah, jumlah tersebut meningkat menjadi sedikitnya 111 korban jiwa, dengan banyak warga lainnya mengalami luka-luka.

Angka tersebut masih berpotensi berubah karena operasi pencarian belum selesai.

Di balik setiap angka yang bertambah, ada keluarga yang masih menunggu kabar.

Penyelamat Berpacu dengan Waktu

Kini fokus utama berada pada pencarian warga yang kemungkinan masih terjebak di bawah reruntuhan.

Foto dan laporan dari wilayah terdampak memperlihatkan warga bersama petugas menggali puing bangunan untuk mencari korban. Kerusakan infrastruktur juga membuat operasi penyelamatan menjadi semakin menantang.

Dalam kondisi seperti ini, setiap jam sangat berarti.

Semakin cepat korban ditemukan, semakin besar pula peluang mereka untuk mendapatkan pertolongan.

Kolombia Kembali Dihadapkan pada Bencana Besar

Kolombia bukan wilayah yang asing terhadap aktivitas gempa. Interaksi lempeng tektonik di kawasan tersebut membuat negara ini memiliki risiko seismik yang signifikan.

Namun gempa M7,4 kali ini kembali menunjukkan satu kenyataan yang sulit dilawan:

Manusia bisa membangun kota selama puluhan tahun, tetapi alam hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengubah semuanya.

Untuk saat ini, perhatian dunia tertuju kepada para korban, keluarga yang kehilangan orang tercinta, serta petugas yang masih bekerja di tengah reruntuhan.

Menurut kamu, apakah negara-negara dengan risiko gempa tinggi sudah seharusnya menerapkan standar bangunan tahan gempa yang jauh lebih ketat, meskipun biaya pembangunannya menjadi lebih mahal?