Bayangin lo lagi excited mau ikut silent disco run jam 5.30 pagi di Canggu. Lagu kenceng di headphone, matahari baru terbit, vibe “digital nomad aesthetic” full on. Eh, pas daftar, nomor +62 lo langsung ditolak. Sementara temen bule lo yang baru datang seminggu diterima sekejap mata. “Sistem otomatis error,” kata mereka. Emang iya? Atau ini cuma dalih biar komunitasnya tetap “aman” dari orang lokal?
Dari “Wadah Digital Nomad” Jadi Kontroversi Nasional
Komunitas Entourage Run Bali (atau Entourage Club) sempat viral banget karena acara lari mereka yang unik: lari sambil dengerin musik lewat headphone, kayak silent disco versi pagi hari di jalanan Canggu. Awalnya sih dibangun buat para digital nomad biar gampang kenalan dan punya aktivitas seru selama di Bali. Terdengar innocent, kan?
Tapi minggu ini semuanya meledak. Screenshot beredar di mana-mana: pendaftar dengan nomor Indonesia (+62) banyak yang ditolak atau diabaikan, sementara nomor luar negeri langsung diterima. Beberapa orang bahkan bilang mereka ditanya dulu “digital nomad atau expat?” sebelum di-approve. Ada yang coba daftar pakai nomor luar negeri (meski orang Indonesia) malah lolos. Hasilnya? Tuduhan diskriminasi langsung ramai di medsos, sampai anggota DPD RI ikut nyinyir, dan Imigrasi turun tangan.
Pihak Entourage akhirnya keluar statement. Mereka minta maaf, bilang gak pernah bermaksud diskriminatif, dan komunitasnya terbuka untuk semua warga negara, termasuk Indonesia. Menurut mereka, ini murni kesalahan teknis di sistem automatic approval WhatsApp dan acara non-lari. “Bias tercipta tanpa sengaja terhadap beberapa nomor +62,” kata mereka. Mereka juga klaim di beberapa event, peserta Indonesia hampir 25%. Sekarang semua kegiatan dihentikan sementara, dan mereka berjanji evaluasi total.
Tapi ya, setelah minta maaf, dua organizer Belanda yang jadi otak di belakangnya (inisial JAS dan HQV) sudah meninggalkan Indonesia dan langsung masuk daftar penangkalan Imigrasi. Gak boleh masuk lagi. Imigrasi bahkan bilang kegiatan mereka “penuh diskriminasi terhadap penduduk lokal” dan terkesan kayak “negara dalam negara”.
“Kesalahan Sistem” atau Mirror yang Nunjukin Realita Canggu?
Ini yang bikin kontroversial. Di satu sisi, bisa aja emang sistemnya kacau. Auto-approve yang salah setting bisa bikin error aneh. Tapi di sisi lain, kenapa harus ada “platform khusus digital nomad” yang secara default nge-filter nomor lokal? Kenapa pertanyaan “kamu digital nomad/expat?” jadi gatekeeping? Di Canggu yang udah penuh bule, co-working space, dan cafe $5 latte, rasa “ini tempatku, bukan tempatmu” itu udah jadi vibe sehari-hari buat banyak lokal.
Entourage bilang beberapa acara mereka open & free, yang lain ada syarat khusus. Fair enough. Tapi pas screenshot penolakan beredar, kesannya bukan “syarat khusus”, tapi “kamu gak cocok sama aesthetic kami”. Dan itu yang bikin orang marah. Bali bukan private playground. Orang lokal juga pengen lari, ketemu orang baru, dan ikut tren tanpa harus ganti nomor telepon dulu.
Yang Bikin Kita Harus Nanya
Apakah komunitas digital nomad di Bali semakin eksklusif sampai lokal merasa digusur di rumah sendiri? Atau ini cuma satu kasus yang kebesaran karena viral? Dan yang lebih penting: kalau “kesalahan sistem” bisa terjadi, kenapa gak dari awal dibikin sistem yang netral aja?
Sekarang Entourage lagi pause total. Mungkin ini kesempatan buat mereka (dan komunitas serupa) beneran introspeksi. Bukan cuma ganti auto-reply, tapi nanya: komunitas ini buat siapa sebenarnya?
Kamu sendiri gimana? Pernah ngerasa “ditolak” di tempat yang harusnya terbuka di Bali? Atau menurutmu digital nomad memang butuh space sendiri biar nyaman? Drop pendapatmu di komentar—jangan cuma scroll.
Komentar