Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat menjadi salah satu penopang terbesar pertahanan Ukraina menghadapi Rusia. Senjata, amunisi, sistem pertahanan udara hingga berbagai perlengkapan militer dari Washington memainkan peran penting di medan perang.
Tapi memasuki 2026, ada satu angka yang sulit diabaikan.
Laju pengiriman bantuan militer AS melalui kontrak USAI dilaporkan turun lebih dari separuh.
Pertanyaannya pun mulai muncul: ini cuma masalah kontrak yang semakin lambat, atau sinyal bahwa era bantuan besar-besaran Amerika untuk Ukraina mulai berubah?
Dari US$587 Juta Jadi US$265 Juta per Bulan
Berdasarkan data yang dikaitkan dengan laporan pengawasan Operation Atlantic Resolve, rata-rata nilai pengiriman melalui kontrak Ukraine Security Assistance Initiative (USAI) disebut turun dari sekitar US$587 juta per bulan pada 2025 menjadi US$265 juta per bulan pada 2026.
Jika dibandingkan, penurunannya mencapai sekitar 55 persen.
USAI sendiri berbeda dengan mekanisme Presidential Drawdown Authority (PDA).
Lewat PDA, Amerika dapat mengambil persenjataan langsung dari stok militernya untuk dikirim ke Ukraina. Sementara melalui USAI, pemerintah AS mengontrak industri pertahanan untuk memproduksi atau menyediakan kebutuhan Ukraina.
Karena itu, barang yang dikirim hari ini bisa saja berasal dari kontrak yang dibuat jauh sebelumnya.
Bukan Berarti Bantuan AS Tiba-Tiba Berhenti
Di sinilah angka 55 persen tadi perlu dibaca dengan hati-hati.
Laporan resmi Operation Atlantic Resolve menunjukkan AS secara kumulatif telah berkomitmen sekitar US$67,8 miliar dalam defense articles and services untuk Ukraina melalui PDA, Foreign Military Financing, dan USAI. Pada kuartal yang berakhir 31 Maret 2026 saja, AS masih mengirim lebih dari 1.200 major end items serta 1.869 short ton amunisi ke Ukraina.
Jadi, “pengiriman USAI turun” tidak sama dengan “seluruh bantuan militer AS turun 55 persen.”
Yang mengalami perlambatan adalah salah satu jalur penting dalam sistem bantuan tersebut.
Tapi Ada Satu Fakta yang Lebih Menarik
Washington ternyata sudah cukup lama tidak mendapatkan suntikan dana tambahan besar untuk respons Ukraina.
Laporan pengawasan pemerintah AS mencatat bahwa Kongres belum mengesahkan supplemental funding baru untuk Operation Atlantic Resolve dan respons Ukraina sejak April 2024. Meski demikian, dana dari alokasi sebelumnya masih terus digunakan dan kontrak-kontrak yang sudah dibuat tetap berjalan.
Artinya, bantuan yang masih mengalir sekarang sebagian merupakan efek dari keputusan pendanaan dan kontrak yang dibuat sebelumnya.
Dan semakin banyak kontrak lama selesai dipenuhi, pertanyaan tentang siapa yang akan membiayai kebutuhan Ukraina berikutnya menjadi semakin relevan.
Eropa Mulai Memikul Beban Lebih Besar
Ada perubahan lain yang juga penting.
Negara-negara NATO telah menyumbangkan sekitar US$4,15 miliar melalui skema Prioritized Ukraine Requirements List (PURL) hingga akhir Maret 2026. Dana tersebut digunakan untuk memperoleh perlengkapan pertahanan bagi Ukraina atau mengganti stok yang sebelumnya diberikan.
Dengan kata lain, model dukungannya perlahan semakin bergeser.
Bukan lagi sekadar “Amerika kirim, Ukraina menerima”, tetapi semakin banyak negara NATO yang ikut membiayai kebutuhan pertahanan Kyiv.
Bagi Washington, itu berarti sekutunya mulai mengambil porsi lebih besar.
Bagi Kyiv, situasinya jauh lebih sensitif: mereka harus memastikan perubahan mekanisme tersebut tidak membuat pasokan senjata datang lebih lambat daripada kebutuhan di medan perang.
Apakah Amerika Mulai Meninggalkan Ukraina? Belum Sesederhana Itu
Angka penurunan lebih dari 50 persen memang terdengar dramatis. Tapi menyimpulkan bahwa Amerika Serikat sudah meninggalkan Ukraina juga terlalu cepat.
Data yang tersedia lebih menunjukkan perubahan ritme dan mekanisme dukungan dibanding penghentian total bantuan.
Namun ada alasan mengapa Kyiv tetap harus waspada.
Dalam perang berkepanjangan, bukan hanya kecanggihan senjata yang menentukan. Seberapa cepat amunisi, rudal pertahanan udara, suku cadang, dan sistem baru tiba juga sama pentingnya.
Kalau Rusia mampu mempertahankan produksi militernya sementara pengiriman kepada Ukraina terus melambat, selisih tersebut pada akhirnya bisa terasa di garis depan.
Dan mungkin inilah pertanyaan terbesar memasuki fase baru perang Rusia-Ukraina:
Bukan apakah Barat masih mendukung Ukraina, tetapi seberapa banyak—dan seberapa lama—mereka bersedia terus membayarnya.
Komentar