Dua puluh enam hari. Sendirian. Di tengah Samudra Pasifik.
Tidak ada yang tahu kapan pertolongan akan datang, sementara daratan entah berada berapa ratus kilometer jauhnya. Bagi Esau Sidemo (57), nelayan asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Kota Ternate, situasi tersebut bukan adegan film survival. Itu adalah kenyataan yang harus ia hadapi hampir satu bulan penuh.
Ketika harapan untuk menemukannya mulai menipis, sesuatu yang nyaris mustahil terjadi.
Sebuah kapal melihat perahu kecil Esau di tengah luasnya lautan.
Berangkat Melaut, Tak Pernah Kembali
Kisah ini bermula ketika Esau berangkat melaut menggunakan perahu kecil pada 7 Juli 2026.
Namun, perahunya kemudian terbawa arus. Esau tak kunjung kembali hingga akhirnya dilaporkan hilang.
Keluarga bersama tim SAR Ternate melakukan pencarian, tetapi keberadaan Esau sulit ditemukan. Hari demi hari berlalu tanpa kabar.
Satu minggu menjadi dua minggu. Dua minggu berubah menjadi tiga.
Esau masih berada di luar sana.
Hari ke-26, Keajaiban Itu Datang
Pada 1 Agustus 2026, awak kapal kargo LNG Endeavour berbendera Prancis sedang melintasi lautan ketika salah satu kru melihat sesuatu.
Sebuah perahu kecil.
Yang membuat penemuan ini semakin luar biasa, perahu Esau disebut tidak terdeteksi oleh radar maupun sistem navigasi kapal. Keberadaannya diketahui berkat pengamatan langsung salah satu kru.
Nakhoda kemudian memutuskan mengubah haluan kapal untuk mendekati perahu tersebut.
Dan ternyata, ada seseorang di sana.
Esau masih hidup.
Dalam Kondisi Lemah, Esau Nekat Melompat ke Laut
Proses penyelamatannya juga berlangsung dramatis.
Setelah hampir sebulan terombang-ambing, kondisi Esau disebut sudah sangat lemah. Kru kapal kemudian melemparkan pelampung ke arahnya.
Esau melompat dari perahunya ke laut dan berusaha meraih pelampung tersebut. Kru kemudian menariknya hingga akhirnya berhasil membawa nelayan berusia 57 tahun itu ke atas kapal.
Setelah 26 hari bertahan hidup di Samudra Pasifik, untuk pertama kalinya Esau akhirnya berada di tempat yang aman.
Dirawat dengan Arahan Dokter dari Prancis
Setelah diselamatkan, Esau langsung mendapatkan penanganan di fasilitas medis yang tersedia di kapal.
Menariknya, perawatan juga dilakukan dengan dukungan telemedis dari dokter di Prancis, sementara kondisi Esau terus dipantau dalam perjalanan.
Kapal kemudian melanjutkan pelayaran menuju Shanghai. Basarnas bersama KJRI Shanghai berkoordinasi untuk mempersiapkan proses kepulangan Esau ke Indonesia.
Satu Tatapan yang Menyelamatkan Nyawa
Mungkin bagian paling sulit dipercaya dari kisah ini bukan hanya fakta bahwa Esau mampu bertahan selama 26 hari.
Tetapi bagaimana ia akhirnya ditemukan.
Di tengah Samudra Pasifik yang luas, perahu kecilnya tidak terdeteksi sistem kapal. Seandainya kru LNG Endeavour tidak melihat ke arah yang tepat pada saat yang tepat, kisah ini mungkin memiliki akhir yang sangat berbeda.
Setelah keluarga menunggu tanpa kepastian dan pencarian berlangsung berhari-hari, Esau akhirnya ditemukan hidup oleh sebuah kapal yang kebetulan melintas.
Kadang, batas antara hilang selamanya dan pulang ke rumah ternyata hanya satu pasang mata yang melihat sebuah titik kecil di tengah lautan.
Komentar